Pelayanan KUA

Googling membaca beberapa tulisan curhatan beberapa capeg dalam pengurusan surat nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) ternyata banyak yang mengeluh dan protes ya.. Mulai dari pengurusan tingkat RT RW sampai KUA Kecamatan, atau kalau mau numpang nikah pengurusannya juga sampai di KUA setempat akad..
Hanya nemu 1 tulisan di kaskus yang mengacungkan jempol pada proses pengurusan surat nikahnya..
Gw sendiri belum pernah melakukan pengurusan surat nikah di KUA, lah wong belum nikah.. hihihi..
Doakan semoga secepatnya gw juga bisa merasakan pelayanan pengurusan surat nikah gw di KUA… Aamiin

Rata-rata yang dikeluhkan adalah sikap petugas (Kelurahan/KUA) dan biaya pengurusan. Ada yang sudah dateng diminta menunggu lama, sementara petugasnya lagi asik makan rujak. Seringkali petugas pelayanan membuka obrolan untuk menebak-nebak status ekonomi calon pengantin, seperti pertanyaan “kerja dimana”, “tinggal dimana”, “nikah dimana” kalau itu hanya untuk mengobrol untuk mengenal sih menurut gw gak masalah.. tapi kalau pertanyaan tersebut dilanjutkan dengan statement “Wah nikah di gedung, mahal ya biaya nya, pasti orang kaya?”, “kan kerja di xxxx, jadi biaya xxxx ya”?.. Walah jadi digunakan untuk mengklasifikasikan status ekonomi capeng untuk menentukan biaya pengurusan. Kasian juga capengnya, pengeluaran lagi banyak-banyaknya dibebani sama biaya pengurusan yang bengkak juga..

Sebenarnya kalau menurut gw masalahnya bukan pada besar nominalnya, tapi karena merasa dibedakan aja kali ya.. dengan hasil pelayanan yang sama (buku nikah dan Jasa penghulu) tapi harganya bisa beda setiap orang.. Gw sendiri gak tau keadaan kerja di KUA bagaimana, pemicunya bisa jadi biaya operasional pelayanan yang minim, SDM nya adalah pegawai honorer (penghasilannya tdk dijamin negara), atau memang sudah budaya yang turun menurun.

Apapunlah penyebabnya, pelayanan pengurusan surat nikah saat ini masih menjadi sorotan untuk segera dibenahi, dan kayanya akhir tahun kemarin juga ramai dibicarakan bahwa “amplop penghulu” termasuk gratifikasi korupsi. Saya gak mau ikut mengkategorikan gratifikasi atau tidak, bisa klik disini http://kpk.go.id/gratifikasi/index.php/informasi-gratifikasi/tanya-jawab-gratifikasi untuk informasi terkait kategori gratifikasi.

Kementerian Agama pun sering kali menghimbau petugas KUA agar tidak mematok biaya “infaq” dalam pelayanannya. Kalau memang mau memberi ya seikhlasnya.. (tapi budaya memberi kan sesuatu setelah pelayanan agak kurang bagus juga ya, selain jadi kebiasaan, juga berpotensi membedakan kinerja petugas pelayanan terhadap pemberi infaq, padahal output pelayanannya sama. Tapi namanya juga himbauan bukan kewajiban, tidak ada ketegasan sanksi apabila tidak mengikuti himbauan. Menurut saya beberapa point yang harus SEGERA dibenahi Kementerian Agama selaku pihak yang berwenang :

1. Kementerian agama perlu menetapkan standar biaya pelayananya, bukan hanya biaya administrasi pencatatan surat nikah saja yang 35 ribu dan 65 ribu TAPI SEMUANYA, perlu dirinci lagi komponen biaya apa saja yang dikeluarkan KUA tapi tidak semua dapat ditanggung APBN. Misalnya biaya honor/jasa penghulu, biaya transport ke tempat akad kalau akad di luar KUA, biaya kursus calon pengantin. Kalau biaya pencatatan administrasi sebaiknya dihapuskan saja seperti biaya administrasi pengurusan KTP, yaa.. karena memang itu pekerjaannya KUA dihari kerja yang gaji pegawai dan beban operasionalnya seharusnya sudah dialokasikan dari DIPA APBN nya.

2. Misalnya sudah ditetapkan, let say ditetapkan biaya pengurusan pernikahan di semua KUA dari ujung Indonesia aceh sampe ujung irian jaya kalau biayanya Rp 750.000 untuk semua biaya surat nikah, kursus capeng, honorarium jasa dan transortasi penghulu (misalnya ini loh), sebaiknya pembayaran dilakukan melalui rekening bank bendahara penerima KUA saja, untuk mencegah petugas menerima uang secara langsung, tinggal bukti setoran ditukarkan dengan KUINTANSI PEMBAYARAN. Sebenernya simple sih, seperti sistem PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) di kementerian/lembaga, dari rekening penerima disetor dulu ke KPPN untuk laporan PNBP, kemudian ditarik lagi untuk pembayaran honor penghulu dan beban operasional lainnya. Jadi pihak KUA yang mengatur honor penghulunya, tidak ada lagi penghulu yang menerima amplop.

3. Kalau dari biaya yang ditetapkan tersebut, masih ada calon pengantin yang merasa benar-benar keberatan, sebaiknya difasilitasi mekanisme permohonan keringanan biaya nikah, dengan ada pembuktian yang menunjukan bahwa capeng tersebut memang membutuhkan keringanan biaya pernikahan.

4. SDM : Banyak petugas KUA dan penghulu yang mengeluh, kalau kebanyakan akad nikah dilakukan di hari sabtu/minggu, which is HARI LIBUR, sebenarnya bisa diatur dengan shift Libur penghulu di weekdays, dengan tetap sesuai aturan jam kerja negara 5 hari kerja dalam seminggu. Kejadian temen kerja yang mau menikah disalah satu KUA di wonogiri, KUAnya hanya mau buka pelayanan di hari kerja dan harus akad di kantor KUA. Dan jam akadnya pun belum bisa ditentukan mengantri dengan calon pengantin yang lain. Dan katanya pengurusan disana ribetnya minta ampun belum selesai-selesai mendekati tanggal akadnya, sampe dia bilang disana KUA paling ribet sedunia, hihihi

5. Kursus calon pengantin, perlu gak sih? Mendengarkan pak penghulu berpetuah panjang lebar. Ada temen gw yang mau nikah di solo, tapi kerja di Jakarta, pas ditawarin kursus dia bilang ga bisa karena dia domisili di jakarta, petugasnya bilang wajib, eh pas ditempelin uang 50rb urusannya selesai. Hehhe.. ajaib.. Kalau menurut gw kursus calon pengantin itu perlu loh..pemantapan mental dan keyakinan capeng untuk menikah.. tapi karena kemasan penyelenggaraanya yang kurang menarik..jadi pada males.. ada yg cerita di web, kalau sebenernya dia pengen ikut kursus itu, tapi isi materi kursusnya tidak seperti yang dia harapkan, penghulunya hanya cerita tentang keislaman saja, bukan cerita hakikat pernikahan secara islam, alasannya sih karena uda ada di buku dan cd yang dikasi dari KUA, lah kalo gitu sih gak usah pada kursus aja kalau materi yang disampaikan beda-beda, tinggal baca buku dan cd yang dikasih.

Well.. itulah sekelumit curhatan gw dipagi ini.. jangan mengeneralisasi semua KUA seperti itu ya.. sebenernya bukan salah KUA juga sih akar masalahnya, karena memang sistem standar pelayanannya saja yang belum diatur dalam ketetapan resmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s