Hemat Energi, Hemat Biaya??

Satuan Kerja (Satker) saya punya semacam forum pertemuan yang berfungsi sebagai tempat sharing ilmu dan pengalaman antar sesama pegawai, namanya “”Forum Fungsional/FF”. Forum ini di adakan di hari Jumat apabila ruang pertemuan di Lantai 1 tidak dipergunakan untuk pelatihan/rapat.
Jumat kemarin pembicaranya adalah Bapak HA, beliau baru pulang dari Xiamen, China mengurus proyek BRESL (Barrier Removal to the cost-effective development and implementation of Energy efficiency Standards and Labeling) atau kalau diterjemahkan kedalam bahasa Rusia kira-kira artinya Menghilangkan hambatan-hambatan/kendala yang timbul dalam rangka mengembangkan dan mengimplementasikan standardisasi energi dan pelabelan standar energi tersebut.

BRESL kalo gak salah proyeknya UNDP dan GEF (Global Environtment Facility) yang bekerja sama dengan beberapa negara di Asia seperti China, Thailand, Vietnam, Pakistan, Bangladesh dan juga Indonesia melalui Kementerian ESDM, serta beberapa Industri global elektronika di Asia. Tujuan nya untuk menstandardisasikan penggunaan energi dan membuat label standar energi terhadap 7 (tujuh) produk home appliances (AC, kipas, kulkas, elektrik ballast, elektrik motor, lampu CFL dan rice cooker). Saya nggak tau kenapa hanya 7 (tujuh) produk itu aja yang difokuskan, sementara Televisi, Komputer dan laptop tidak dimasukan. Si Bapak HA ini kebetulan menjadi ketua untuk 3 jenis produk (AC, Kipas dan Kulkas) di region Indonesia.

Mengapa kita perlu menghemat energi?
Jumlah pemakaian energi meningkat rata-rata 7% setiap tahunnya, hal itu disebabkan karena adanya peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran penduduk serta semakin berkembangnya Industri-Industri peralatan elektonik. Tapi emang bener sih, meskipun ditengah morat-maritnya perekonomian Indonesia, coba bandingkan penggunaan energi kita sekarang dengan 10/20 tahun yang lalu. Dulu belum ada AC, sekarang banyak rumah yang pake AC, dulu punya komputer 1 dirumah udah bersyukur banget, sekarang tiap anak punya komputer/laptop masing-masing, dulu punya Televisi aja uda seneng apalagi TVnya yang berwarna, sekarang tiap kamar masing-masing ada televisinya. Mau tidak mau ternyata hidup kita sekarang sangat bergantung pada peralatan elektronik. Tapi, dengan bertambahnya penggunaan alat elektonik itu, Jumlah energi yang kita konsumsi itu juga semakin besar. dan energi itu bisa habis suatu saat. Maka disinilah proyek BRESL itu berperan bagaimana menstandarkan energi yang EFISIEN.

Diharapkan nantinya, meskipun setiap orang menambah penggunaan alat elektroniknya, tapi Industri-industri mampu menciptakan suatu produk elektronik yang hemat energi. Targetnya bisa menekan penggunaan energi sebesar 1%, jadi rata-rata kenaikan pertahunnya hanya sekitar 6%. Misalnya untuk lampu CFL, Industri dituntut supaya bisa menciptakan konsumsi pemakaian energi 1 lampu di masa sekarang sama dengan 2 lampu di masa yang akan datang dengan kualitas yang sama. Jadi kalo sekarang saya pakai 1 lampu Philips kualitas bagus dengan energi 24 watt, tahun yang akan datang saya akan pakai 1 lampu Philips kualitas yang sama bagus tapi dengan energi 12 watt. Jadi bukan pemerintah aja yang berperan Industripun akan dipaksa untuk berperan.

Dulu, Satuan Kerja saya pernah berinisiatif untuk menghemat energi secara teknis, kita punya Laboratorium pengujian dimana lampu, AC, mesin dan alat selalu dalam keadaan menyala 24 Jam, kita coba menghemat dengan mematikan AC, lampu dan mesin setelah jam pulang kantor, Tapi yang ada malah banyak komponen alat pengujian yang rusak karena sering menghidup nyalakan saklar, dan memang alat dalam lab tersebut harus dalam keadaan suhu yang dingin. So, ternyata penghematan secara teknis tidak efektif, memang harus dari akarnya kali yah..

Nantinya, ke 7 (tujuh) produk elektronik diatas yang saya sebutkan akan punya label standar hemat energi pada kemasannya. Gambar label nya seperti yang disamping ini, gambar bintang (*). Skalanya 1-7 bintang. Semakin banyak bintangnya maka produk elektronik yang kita gunakan semakin hemat energi. Jadi pilihlah barang elektronik dengan bintang 7..(hehe..kaya obaat sakit kepala ya bintang 7). Dengan adanya label ini secara tidak langsung konsumen akan dapat terinformasi dengan seberapa hemat kah produk elektonik yang mereka gunakan.

Tapi sepertinya, slogan iklan layanan masyarakat “Hemat energi hemat biaya” tidak bisa berlaku lagi. Semakin kita mau hemat energi semakin banyak rupiah yang harus kita keluarkan.  Soalnya, dalam menciptakan produk yang hemat energi, industri elektronik harus punya cost produk yang lebih besar, sehingga harga jual produk hemat energinya pun akan meningkat, belum lagi ditambah dengan biaya pengujian seberapa hemat energi dan biaya sertifikasi standar produk hemat energi. Meskipun pada akhirnya konsumen memiliki beban listrik yang lebih rendah, tapi tetep saja kalau harga produk elektronik mahal industri dan konsumen akan merasa tertekan.

Kita doakan dan dukung saja semoga proyek BRESL ini berhasil, dan produk-produk elektroniknya lain nya dapat menyusul dikonversi menjadi produk yang hemat energi dan semua negara di dunia bisa menggunakan produk elektronik yang hemat energi. Go Green..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s