Antara Idealisme dan Realistis

Hal terberat yang gw rasakan pada saat masuk ke dalam lingkungan pemerintahan adalah bagaimana kita memposisikan diri kita untuk menentukan kapan kita bersikap idealis dan kapan harus bersikap realistis. Hal itulah yang masih terus gw pertanyakan selama ini. Dan sepertinya berat sekali apabila kedua hal tersebut di jalankan secara bersamaan. Tidak konsisten!!! itu sugesti pemikiran gw apabila gw menjalankan kedua nya. Karena gw berada bersama orang yang realistis dan orang yang idealis. Menerapkan setengah-setengah looks like that you have a two faces jika dilihat dari sudut pandang masing2 golongan itu.

Idealisme itu suatu suatu pemikiran yang kokoh bahwa seharusnya hidup terkondisi pada keadaan yang sebagaimana dibayangkan dan hal yang semestinya sesuai peraturan baik itu secara hukum, norma maupun adat, agar semua yang dilakukan terasa nyaman bagi dirinya atau bagi orang lain. Gw pun bukan orang yang idealis, tapi gw cenderung orang yang taat pada peraturan, selama peraturan itu tidak memihak ke suatu golongan tertentu dan bertujuan untuk kenyamanan dan ketertiban bersama, yah kenapa tidak dilakukan saja?

Realistis itu suatu pemikiran yang meengikuti arus dan menyesuaikan dengan kondisi yang sedang berlangsung. Realistis ini sebenarnya bagus, dia tidak kaku terhadap perubahan-perubahan, dan memang jaman itu berubah. Apa yang sesuai atau layak menurut jaman dulu belum tentu sesuai untuk sekarang. Dan hal ini pun lebih bisa diterima akal. Gw pun mengerti akan hal-hal yang seperti ini.

The problem is ketika kita harus bersikap realistis tapi pada kenyataanya apa yang harus kita lakukan itu bertentangan dengan peraturan-peraturan terdahulu. Dan kadang yang gw heran, pemerintah itu membuat aturan yang idealis tapi kadang nggak realistis. Misalnya, mempekerjaan karyawan kontrak itu katanya tidak diperbolehkan, sementara penerimaan pegawai selama ini hanya diperuntukan bagi yang berpendidikan S1 ke atas, sementara dalam perkantoran itu pasti kita butuh yang namanya office boy, satpam, driver yang gak mungkin dipekerjakan untuk yang pendidikannya S1 ke atas. Bisa ga bisa, kantor pasti mempekerjaan pegawai S1 kebawah. Akibatnya kantor harus mencari-cari celah bagaimana caranya untuk membayar pegawai kontraknya dengan tidak mencantukan kebutuhan alokasi membayar pegawai kontrak pada anggarannya.

Terus dalam pembelian barang/Jasa semuanya itu harus sesuai dengan anggaran yang sudah diajukan pada tahun sebelumnya. Tapi pada kenyataannya ada hal-hal mendesak yang diluar perkiraan perencanaan kita perlu membeli alat/barang itu. Misalnya ada alat yang rusak, tapi alat itu penting bagi keberlangsungan dan nama baik kantor. Masa mesti nunggu tahun depan sih, di rencanakan dalam anggaran nanti kalo uda di approve tahun depan baru cair.

Hehhe..knp ujungnya pada anggaran ya,, Ya intinya gw sebel sama peraturan yang ada, apalagi kalo terkait dengan yang namanya anggaran orang pasti akan jadi sensitif. Karena hal itu ujung-ujungnya bikin kecurigaan sama ketidak percayaan.

Dan satu lagi sama sistemnya, perasaan dulu gw diswasta fine2 aja, kalo perencanaan sama realisasinya itu berbeda, yang penting ngalirnya kemana itu jelas dan bukan hanya ada bukti fisik (kuintansi) tapi juga ada pencapainnya peningkatan hasil dari pengalihan anggaran itu. Kenapa pemerintah gak mengadopsi best practicenya swasta aja ya, kalo dalam penggunaan anggaran swasta pasti lebih efisien dan efektif, secara dana anggaran yang mereka peroleh bener-bener dari usaha keras pegawai2anya, beda kalo pemerintahan dari pungutan pajak.

dan yang tambah nyebelinnya sebagian besar anggaran pemerintah malah diperuntukan untuk kebutuhan rutin, yang untuk pembangunan dan perbaikan infra strukturnya hanya sisa-sianya. contohnya misalnya kalo beli kendaraan, pasti kita akan bayar pajak dong, semakin besar orang yang punyak kendaraan pasti akan semakin besar pajak yang diperoleh. tapi kembali lagi, pajak itu larinya kemana, hanya untuk pengeluarann rutin kan. Padahal dengan jumlah kendaraan yang lebih banyak itu kita perlu membangun infrasturktur jalan yang baik untuk menampung kendaraan2 itu.

Di bulan September ini, udah ada temen 1 kantor gw yang mengundurkan diri, dia masuk satu tahun lebih dulu daripada gw, dan alasan idealisme dan realistis ini menjadi salah satu faktor pendorongnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s